Jakarta, & Gempa Semalam

Di tengah khusuk-khusuknya saya menikmati celoteh umat-umatnya Geddoe, tiba-tiba rasanya badan seperti diayun-ayun ke kanan dan kekiri. Aneh. Apa mungkin anemiaku kambuh lagi ya?

Gak mungkin, wong tadi siang saya makan sate kambing ko, yang ada harusnya tensi darah yang malah naik. Sedetik kemudian baru saya menyadari bahwa kejanggalan bukan pada diri saya, melainkan ini gedung yang berayun.

“Shit, Gempa!”, spontan saya berteriak. Kontan cina-cina seantero ruangan menoleh, dan memandang takjub heran ke arah saya. –Cina disini yang saya maksud adalah para ekspatriat dari cina daratan sana, bukan saudara-saudara saya yang berasal dari etnis tionghoa– . “Yes guys, it’s an earth quake!” Cina-cina itu masih saja tertegun. “AN EARTH QUAKE GUYS!!” saya mengulanginya, namun kali ini dengan volume lebih keras, dan diiringi dengan sambaran terhadap tas laptop. Laptop segera saya tutup, memasukkanya ke dalam tas, dan secepat kilat berlari ke lift terdekat. Maklum, lantai 17.

Benar dugaan saya, benar-benar gempa, buktinya banyak yang antri di lift. Dengan perasaan tegang,saya gelisah menunggu pintu lift terbuka. Cina-cina tadi, juga berlarian menuju lift mengikuti saya. Goyangan masih kuat terasa, namun pintu lift masih belum terbuka. “Duh Gusti, paringi slamet kulo!”. Bergumam saya dalam hati. Beberapa saat kemudian pintu lift terbuka, namun lift sepertinya penuh. Nekat saya maksa masuk, dan berharap alarm berat maksimum tak berbunyi. “Yes!” alarm ga berbunyi. Untung cuman 55kg, coba kalo berat saya ada di 60 kg (berat badan ideal saya adalah 60kg), belum tentu bisa masuk lift. Belum lagi ditambah berat tas ama laptop.

17, 16, 15, .. 5, 4, 3, 2, 1

Akhirnya nyampe juga di lantai satu, begitu pintu terbuka, “ZAP!” secepat Flash melesat ke pintu keluar.

Saya tertegun lama di dekat shelter busway setiabudi. Memandang dengan tatapan nanar ke atas gedung-gedung sekitar Sudirman. Davinci Tower, Mid Plaza –gedung dimana aku bekerja–, Chase plaza, Le Meridien Hotel, dan tak ketinggalan pula Landmark Sudirman. Berandai-andai, kalo saja kekuatan gempa itu lebih besar, apakah gedung-gedung ini mampu menahannya? Berapa ribu homosapiens yang bakal menjadi korban? Sempatkah saya menyelamatkan diri? Ah.. saya mulai ngelantur. Yang penting saya selamat sekarang. Dan gedung-gedung itupun masih tetap kokoh berdiri menghiasi Jakarta dengan angkuhnya..

 

6 responses to “Jakarta, & Gempa Semalam

  1. Sampai ke kampung saya juga gempanya kerasa katanya. 😕

    Btw, spektakuler, itu, kalau sampai gedung-gedungnya rubuh. 😆

  2. @geddoe
    Sepertinya Dia you-know-who tahu kalo sedang kamu gosipin ged. 😛

    Atau jangan-jangan sebagai petunjuk awal datangnya bulan puasa. Karena mungkin Dia dah eneg ngeliat umat yang ga pernah kompak nentuin awal puasa maupun lebaran. :mrgreen:

    Spetakuler?? kalo iya seperti itu, saya mungkin sekarang dah jadi syuhada kalee, terkubur bersama cina-cina yang konon katanya kafir itu 😆

  3. @geddoe
    Sepertinya Dia you-know-who tahu kalo sedang kamu gosipin ged. 😛

    Ato jangan-jangan sebagai petunjuk awal datangnya bulan puasa. Karena mungkin Dia dah eneg ngeliat umat yang ga pernah kompak nentuin awal puasa maupun lebaran. :mrgreen:

    Spetakuler?? kalo iya seperti itu, saya mungkin sekarang dah jadi syuhada kalee, terkubur bersama cina-cina yang konon katanya kafir itu 😆

  4. gempa yang itu, ya??
    di jogja kalo gak salah juga kerasa..
    pertama gw mikirnya : lho, kok gw tiba-tiba ada di kapal, ya??
    😆

  5. ternyata berat badan kita sama.

    Semoga dalam gempa-gempa berikutnya juga selalu mendapat keselamatan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s